Senja
itu saat terakhir kalinya aku menatap wajahmu, sepintas aku melihat sebuah
kesedihan. Entah hal apa yang tega menyakiti hati makhluk seindah dirimu. Ingin
aku menanyakan hal ini langsung kepadamu, namun aku tersadar bahwa diriku sudah
tidak memiliki hak untuk menanyakan keadaanmu. Terlebih setelah semua yang
telah aku perbuat terhadapmu beberapa tahun lalu. Ya, aku kini hanyalah
serpihan kecil dari bagian masa lalumu yang mungkin sudah benar-benar hilang
dari ingatanmu. Meskipun cukup banyak tanya yang menumpuk didalam pikiranku,
aku pun memilih untuk tetap terdiam dengan sesekali mencuri pandang kepadamu
dan membiarkan diri ini larut bersama dengan sinar mentari di senja itu.
Matahari
pun semakin berlari ke ufuk barat untuk menyembunyikan sinarnya sehingga langit
mulai menghitam. Aku hanya duduk termenung dalam kesepian. Semua
kenangan-kenangan saat bersamamu semakin tak terbendung lagi dan memaksaku
untuk larut kedalamnya. Aku teringat saat Tuhan mempertemukan kita di suatu
sekolah. Aku juga teringat saat senyummu mampu membius diri ini untuk pertama
kalinya. Sebuah senyum yang membuatku terus memikirkanmu, bahkan hingga saat
ini. Sebuah senyum darimu mampu mencuri hatiku dari seseorang yang sangat aku
dambakan sebelumnya. Teringat semua kenangan-kenangan manis saat kamu dan aku
menjadi kita. Teringat setiap detil percakapan kita. Dan aku teringat dengan
hadiah yang kamu berikan padaku yang hingga detik ini masih tersimpan rapih
dikamarku.
Semakin
aku berontak untuk melawan kenangan ini malah membuatku menjadi semakin larut
kedalamnya. Namun yang terlintas kali ini adalah saat dirimu memutuskan untuk
meninggalkanku. Aku sangat terpukul dengan keputusanmu tersebut. Memang,
kesalahan bodoh dari dirikulah yang menyebabkanmu pergi. Sejak saat itu duniaku
yang sebelumnya penuh warna dan keceriaan seketika berubah menjadi kelam. Jiwaku
terasa seperti mati dan aku merasa seperti bukanlah aku yang biasanya. Semua
yang aku jalanin sudah tidak sama seperti dulu lagi. aku membunuh jiwaku dengn
paksa dan menggantinya dengan jiwa yang sangat dingin. Aku yang baru ini tidak
dapat merasakan hangatnya kebersamaan lagi. Canda dan tawaku terasa begitu
hambar. Aku membunuh semua perasaan bahagia dalam tubuh ini sehingga hanya
kabut kelam yang tersisa didalam hati.
“You turn my whole life so blue, drowning me so deep. I just can't reach
my self again.”
Jiwaku
yang dingin inilah yang yang menemani hari-hariku. Aku menjadi tidak pernah
lagi berharap pada orang lain. Bahkan aku juga menjadi sangat tidak perduli
dengan orang lain dan apa yang mereka katakan.


- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact