Friday, August 22, 2014

Mencintai Dalam Diam

                Kamu mungkin sudah lupa dengan momen yang terjadi hampir 5 tahun lalu. Satu momen yang mengawali segalanya. Satu hal yang sangat membuat aku merasa bersalah sekaligus bingung, bingung harus melakukan apa agar mata indah yang ada dibalik kacamata itu berhenti meneteskan air mata. Aku merasa bersalah saat itu karena takut telah melukai hatimu sehingga kamu menangis sepanjang perjalanan di senja itu.
                Perlu kamu tau, kalimat “lo mau gak jadi pacar gue?” yang aku ucapkan saat itu bertujuan agar kamu bisa tersenyum kembali dan melupakan kakak kelasmu yang berstatus sebagai pacarmu itu. Ya, aku tau, waktu itu hubunganmu yang baru berjalan beberapa bulan itu sedang bermasalah dan belum resmi putus, dan aku mengakui bahwa aku salah telah menyatakan isi hatiku padamu disaat yang tidak tepat seperti itu. Bahkan dengan cara yang sangat kekanak-kanakan sekali, yaitu menyatakan kalimat tadi sambil berjalan mendahuluimu. Akupun salah telah maksa untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaanku secepatnya. Hingga akhirnya kamu menjawabnya, namun tidak dengan jawaban yang aku sangat harapkan. Melainkan dengan jawaban yang sangat aku takuti, bahkan mungkin ditakuti oleh semua anak manusia yang sangat berharap keinginannya dikabulkan.

“Sometimes love is like dominoes. I fall for you, you fall for someone else.”

                Penolakan hanya sempat membuatku tidak nafsu makan untuk beberapa hari. Namun aku pun menolak untuk berhenti mencintaimu. Aku menolak untuk berhenti menyayangimu. Aku bangkit dari segala kesedihanku. Dan aku tetap terus menunjukkan sikap bahwa aku mencintaimu. Kamu pun meresponnya dengan positif, seakan memberikan udara segar untuk diriku yang hampir putus asa untuk memilikimu.
                Segala usahaku tadi berpuncak pada Sabtu sore tanggal 9 April 2011, tepat saat aku berusia 16 tahun. Berlokasi di kantin suatu sekolah di Jakarta, aku pun menyatakan isi hatiku padamu untuk yang kedua kali. Kali ini engga sambil jalan, tapi kita berdua duduk berhadapan dikantin. Dan kamu juga sudah resmi putus dengan kakak kelasmu itu. Sambil menatap matamu dan dengan bermodalkan nekat + bahasa inggris yang seadanya, aku pun menarik nafas sejenak dan berkata “gue sayang banget sama lo, do you wanna be my girlfriend?”. Suasana langsung hening seketika. Kamu masih terdiam sambil sesekali menatap handphone No*ia milikmu. Tak sabar menunggu jawabmu, aku rebut handphone-mu itu lalu kuletakan diatas meja kantin, sambil memegang tanganmu, aku berkata “emm, jawabannya terserah lo. Gue bakal nerima kok apapun jawabannya. Tapi yang penting gue udah berusaha jujur tentang perasaan gue, dan gue juga udah agak lega bisa nyatain ini. Sekali lagi, jujur, gue sayang banget sama lo.”  Masih tak ada jawaban yang keluar darimu, aku pun bertanya sekali lagi “so, do you wanna be my girlfriend?”
Matahari seolah tak mau melihat kejadian itu, ia bersembunyi di balik awan. Dan angin pun bertiup pelan. Tapi ternyata di balik sejuknya udara sore itu, terpancar keraguan dan emosi dari wajahmu. Dengan suara pelan dan agak bergetar, kau berkata “maaf banget, gue belum bisa nerima lo. Gue masih mau sendiri dulu. Tapi gue juga sayang sama lo.. ” Air mata pun kembali membasahi pipimu. “Emm, yaudah gapapa. Yang penting lo udah tau tentang perasaan gue ke lo. Sekarang udah ya jangan nangis lagi” aku berkata demikian sambil tersenyum dan sambil menyeka air mata yang keluar dari mata mu itu.

“That worst moment when you hear something that kills you inside, but you have to act like you're fine“

Untuk kedua kalinya hati ini remuk oleh sebab yang sama dan orang yang sama pula. Hati ini hancur berkeping-keping seperti halnya sebuah gelas kaca yang jatuh ke lantai. Hanya keputus asa-an yang ada di diri ini. Melihat kamu yang masih menunduk dan meneteskan airmata, aku mencoba tersenyum dan meminta maaf kepadamu lalu pergi meninggalkanmu. Dengan langkah berat, aku meninggalkanmu. Jujur, saja aku merasa sangat bersalah meninggalkanmu sendirian saat itu. Tapi apa yang bisa seorang pemimpi sepertiku lakukan jika memang kamu sedang ingin sendiri? Ulang tahun yang kacau.. 
Rasa putus asa yang begitu besar sempat membuatku untuk benar-benar berhenti untuk mendapatkanmu. Namun, ternyata di dasar hati ini masih ada secercah semangat. Semangat untuk bangkit dari keterpurukan. Semangat itu adalah kalimat terakhir darimu di sore itu. Kalimat yang hampir tak kudengar karna hati dan pikiranku saat itu sedang tidak sejalan.
Beberapa bulan kemudian, ketika aku sudah menginjakkan kaki di bangku SMA, aku coba membangun dari awal kembali istana dalam hatiku yang kubuatkan khusus untukmu. Aku mulai lagi semuanya dari nol. Aku susun kembali serpihan-serpihan hati ini. Aku mencoba untuk tidak terburu-buru seperti sebelumnya.
Kita berdua dan ditambah dengan dua orang temanku lainnya membuat sebuah grup obrolan. Semenjak saat itu, kita mulai sering jalan. Banyak hal-hal kecil yang membuatku sangat senang. Hal-hal kecil yang mungkin bagimu itu tak berarti apapun, namun mampu menyalakan api cinta yang hampir padam dihatiku. Seperti halnya saat kau tertidur dan senderkan kepalamu di pundakku. Saat itu pula aku ingin menjagamu untuk selamanya. Bahkan, aku sempat berkata dengan sangat pede-nya kepada dua orang temanku itu bahwa aku ingin kau menjadi istriku nanti.

“A short conversation with you is much more important to me, than a long conversation with someone else.”

                Berkurangnya intensitas ketemuan cukup memberikan efek pada hati ini. Hati ini yang awalnya seutuhnya untukmu, kini mulai berkurang. Hati ini berkhianat. Pindah ke ‘dia’, seorang perempuan yang mampu mengalihkan duniaku. Sampai November 2011, perasaanku ke ‘dia’ lebih besar dibandingkan perasaanku kepadamu. Saat suatu malam minggu, kukenalkan ‘dia’ kepadamu, terlihat sekilas di raut wajahmu sebuah kesedihan. Aku terkejut saat mendengar ucapan temanku yang saat perkenalan itu juga ada disana. Temanku itu mengatakan padaku bahwa setelah perkenalan di malam itu, kamu menangis. Aku tidak habis pikir kenapa kamu menangis malam itu. Apakah kamu cemburu? Tapi bukankah beberapa bulan sebelum perkenalan itu kamu sudah kembali menjalani hubungan dengan kakak kelasmu?
Karena takut merusak hubunganku dengan ‘dia’ juga merusak hubungan kamu dengan kakak kelasmu, akupun mengambil keputusan untuk membahas hal ini denganmu. Tanggal 21 November 2011, bertepatan dengan final SEAGames 2011 cabang sepakbola, kita membahas hal ini. “Maaf, kita gabisa terus kaya gini. Gue tau gue masih ada rasa sama lo. Tapi, lo kan udah punya pacar, dan gue juga udah punya ‘dia’. Jadi mendingan kita jalanin aja dulu sama pacar masing-masing.” Dengan sangat berat hati, aku berkata seperti itu melalui BBM. Aku juga menambahkan “udah.. sekarang gini. Lo yakinin aja omongan ‘klo jodoh gabakal kemana’, yaa klo emang kita jodoh pasti nanti bakal dipersatukan kok.”
Januari 2012, saat semua folder sms darimu kuhapus. Kamu mengirimkan satu sms lagi. Sebuah pesan singkat yang kamu kirimkan dengan menggunakan bahasa inggris, yang jika diartikan menjadi “aku rindu kamu yang dulu”. Karena sms itulah aku sempat bertengkar dengan ‘dia’, dan menyalakan kembali sisa-sisa api asmara yang telah kupadamkan dengan paksa beberapa bulan lalu. Aku sempat menghilang tanpa kabar, bahkan ‘dia’ pun tidak kukabari. Hingga pada pertengahan bulan Februari, bulan yang penuh cinta itu, akupun membulatkan tekad untuk tetap bertahan dengan ‘dia’. Namun apadaya, nasi sudah menjadi bubur, semua telah terlambat. ‘Dia’ yang mampu mencuri perhatian juga hatiku dari kamu ini memutuskan untuk mengakhiri hubungan denganku. Aku putus dengan ‘dia’ sedangkan kamu tetap bertahan dengan kakak kelasmu itu.

“Akan tiba saatnya, ketika kamu single, dia punya pacar, dan ketika dia single, kamu yang punya pacar” - @poconggg

Semenjak saat itu aku bertekad untuk menjaga jarak denganmu. Aku tidak mau terlalu dekat seperti saat-saat sebelumnya. Tapi aku juga tidak ingin terlalu jauh dari kamu. Kita sudah mulai jarang bertemu, bahkan sekedar berbalas BBM saja sudah jarang. Apalagi sejak kamu sudah masuk SMA. Kita semakin jarang bertemu dan hampir tidak pernah berbalas sms, mention twitter, ataupun BBM. Meskipun seperti itu, aku tetap sedia setiap saat kamu membutuhkanku. Misalnya, pada suatu malam minggu di tahun 2012, kamu datang kerumahku tanpa memberitahukanku sebelumnya. Malam itu, aku yang sebelumnya belum pernah mengenalkan satu pun perempuan kepada orang tua dan kakak-kakakku itu sangat terkejut akan kehadiranmu. Aku pun langsung membawamu kerumah salah satu teman kita. Disana, kamu bercerita tentang hubunganmu yang sudah tidak beres itu. Kamu bercerita tentang sikap kakak kelasmu itu kepadamu. Sebagai ‘teman’ yang juga masih menyimpan rasa sayang, aku sangat tidak ingin melihat kamu disakiti oleh orang lain. Aku pun menganjurkan agar kamu meninggalkan dia.
Saranku itu akhirnya kamu ikuti. Kamu pun mengakhiri hubunganmu dengannya, orang yang sudah sering menyakitimu. Kali ini kita sama-sama ‘kosong’, kita pun sudah tau perasaan masing-masing, namun ga ada yang berani memulainya. Kita sudah tidak pernah chat, namun ketika sedang bertemu, aku merasa sangat dekat, bahkan kita bertingkah bagaikan sebagai pasangan.

“You can't simply befriends someone you used to love, because a little part of your heart will always love her”

Entahlah, apakah semua yang aku rasakan ini tentang perasaanmu, tentang perkataan manismu, dan tentang semua kedekatan kita saat sedang bertemu adalah sebuah kenyataan ataukah hanya khayalan untuk bisa memiliki hatimu. Yang aku tau, aku tetap menyayangimu, dan perasaanku masih seperti dulu. Mungkin kamu berkata bahwa aku berubah. Kamu benar, aku memang berubah. Aku merubah cara untuk mencintaimu. Aku mencintaimu dalam diam. Tidak seperti dulu saat aku menyatakan langsung perasaanku ini padamu. Kini aku lebih suka untuk menyatakan cintaku padamu melalui do’a yang selalu kupanjatkan kepada-Nya setiap hari.

Tuhan, tolong jagalah dirinya saat aku berada jauh dari dirinya, jauhkanlah dia dari orang-orang yang ingin menyakiti hati dan perasaannya. Sampaikanlah sayangku untuknya. Tuhan, izinkanlah aku untuk menjadi ‘Imam’-nya suatu saat nanti..”

Kini aku telah memilih untuk pergi dari Jakarta. Aku memilih untuk meninggalkan semua kenangan yang aku miliki di Jakarta. Termasuk meninggalkan kamu yang belum sempat aku miliki. Maafkan aku atas segala kesalahan yang pernah kuperbuat terhadapmu. Maafkan aku yang harus pergi jauh dari kamu. Terima kasih telah membuat hari-hariku lebih bewarna. Terima kasih telah mengisi cerita dalam hidupku. Terima kasih telah mengajarkan padaku bahwa mencintai tidak harus selalu berarti memiliki. Dan yang perlu kamu ketahui selain semua cintaku padamu, yaitu rasa bangga telah mengenalkan kamu ke ibu dan kakakku. Karena kamulah wanita pertama dan satu-satunya hingga saat ini yang pernah aku kenalkan kepada orang dirumahku. Tunggulah aku di Jakarta. Tempat dimana aku memulai segalanya. Tunggulah aku di sana, bersama dengan semua mimpi-mimpiku..

“How do I say goodbye to someone I never really had? Why do my tears fall so endlessly for someone who was never really mine? Why is it I miss someone I was never really with? And why do I love someone whose love was never really mine”


0 comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.

 
;