Kamu
mungkin sudah lupa dengan momen yang terjadi hampir 5 tahun lalu. Satu momen yang
mengawali segalanya. Satu hal yang sangat membuat aku merasa bersalah sekaligus
bingung, bingung harus melakukan apa agar mata indah yang ada dibalik kacamata
itu berhenti meneteskan air mata. Aku merasa bersalah saat itu karena takut
telah melukai hatimu sehingga kamu menangis sepanjang perjalanan di senja itu.
Perlu
kamu tau, kalimat “lo mau gak jadi pacar
gue?” yang aku ucapkan saat itu bertujuan agar kamu bisa tersenyum kembali
dan melupakan kakak kelasmu yang berstatus sebagai pacarmu itu. Ya, aku tau,
waktu itu hubunganmu yang baru berjalan beberapa bulan itu sedang bermasalah
dan belum resmi putus, dan aku mengakui bahwa aku salah telah menyatakan isi
hatiku padamu disaat yang tidak tepat seperti itu. Bahkan dengan cara yang
sangat kekanak-kanakan sekali, yaitu menyatakan kalimat tadi sambil berjalan
mendahuluimu. Akupun salah telah maksa untuk mendapatkan jawaban atas
pertanyaanku secepatnya. Hingga akhirnya kamu menjawabnya, namun tidak dengan
jawaban yang aku sangat harapkan. Melainkan dengan jawaban yang sangat aku
takuti, bahkan mungkin ditakuti oleh semua anak manusia yang sangat berharap
keinginannya dikabulkan.
“Sometimes
love is like dominoes. I fall for you, you fall for someone else.”
Penolakan
hanya sempat membuatku tidak nafsu makan untuk beberapa hari. Namun aku pun
menolak untuk berhenti mencintaimu. Aku menolak untuk berhenti menyayangimu.
Aku bangkit dari segala kesedihanku. Dan aku tetap terus menunjukkan sikap
bahwa aku mencintaimu. Kamu pun meresponnya dengan positif, seakan memberikan
udara segar untuk diriku yang hampir putus asa untuk memilikimu.
Segala
usahaku tadi berpuncak pada Sabtu sore tanggal 9 April 2011, tepat saat aku
berusia 16 tahun. Berlokasi di kantin suatu sekolah di Jakarta, aku pun
menyatakan isi hatiku padamu untuk yang kedua kali. Kali ini engga sambil
jalan, tapi kita berdua duduk berhadapan dikantin. Dan kamu juga sudah resmi
putus dengan kakak kelasmu itu. Sambil menatap matamu dan dengan bermodalkan
nekat + bahasa inggris yang seadanya, aku pun menarik nafas sejenak dan berkata
“gue sayang banget sama lo, do you wanna
be my girlfriend?”. Suasana langsung hening seketika. Kamu masih terdiam
sambil sesekali menatap handphone No*ia milikmu. Tak sabar menunggu jawabmu,
aku rebut handphone-mu itu lalu kuletakan diatas meja kantin, sambil memegang
tanganmu, aku berkata “emm, jawabannya
terserah lo. Gue bakal nerima kok apapun jawabannya. Tapi yang penting gue udah
berusaha jujur tentang perasaan gue, dan gue juga udah agak lega bisa nyatain
ini. Sekali lagi, jujur, gue sayang banget sama lo.” Masih tak ada jawaban yang keluar darimu, aku
pun bertanya sekali lagi “so, do you
wanna be my girlfriend?”
Matahari seolah tak mau
melihat kejadian itu, ia bersembunyi di balik awan. Dan angin pun bertiup
pelan. Tapi ternyata di balik sejuknya udara sore itu, terpancar keraguan dan
emosi dari wajahmu. Dengan suara pelan dan agak bergetar, kau berkata “maaf banget, gue belum bisa nerima lo. Gue
masih mau sendiri dulu. Tapi gue juga sayang sama lo.. ” Air mata pun
kembali membasahi pipimu. “Emm, yaudah
gapapa. Yang penting lo udah tau tentang perasaan gue ke lo. Sekarang udah ya
jangan nangis lagi” aku berkata demikian
sambil tersenyum dan sambil menyeka air mata yang keluar dari mata mu itu.
“That worst moment when you hear
something that kills you inside, but you have to act like you're fine“
Untuk kedua kalinya hati
ini remuk oleh sebab yang sama dan orang yang sama pula. Hati ini hancur
berkeping-keping seperti halnya sebuah gelas kaca yang jatuh ke lantai. Hanya
keputus asa-an yang ada di diri ini. Melihat kamu yang masih menunduk dan
meneteskan airmata, aku mencoba tersenyum dan meminta maaf kepadamu lalu pergi
meninggalkanmu. Dengan langkah berat, aku meninggalkanmu. Jujur, saja aku
merasa sangat bersalah meninggalkanmu sendirian saat itu. Tapi apa yang bisa
seorang pemimpi sepertiku lakukan jika memang kamu sedang ingin sendiri? Ulang
tahun yang kacau..
Rasa putus asa yang begitu
besar sempat membuatku untuk benar-benar berhenti untuk mendapatkanmu. Namun,
ternyata di dasar hati ini masih ada secercah semangat. Semangat untuk bangkit
dari keterpurukan. Semangat itu adalah kalimat terakhir darimu di sore itu.
Kalimat yang hampir tak kudengar karna hati dan pikiranku saat itu sedang tidak
sejalan.
Beberapa bulan kemudian,
ketika aku sudah menginjakkan kaki di bangku SMA, aku coba membangun dari awal
kembali istana dalam hatiku yang kubuatkan khusus untukmu. Aku mulai lagi
semuanya dari nol. Aku susun kembali serpihan-serpihan hati ini. Aku mencoba
untuk tidak terburu-buru seperti sebelumnya.
Kita berdua dan ditambah
dengan dua orang temanku lainnya membuat sebuah grup obrolan. Semenjak saat itu,
kita mulai sering jalan. Banyak hal-hal kecil yang membuatku sangat senang.
Hal-hal kecil yang mungkin bagimu itu tak berarti apapun, namun mampu
menyalakan api cinta yang hampir padam dihatiku. Seperti halnya saat kau
tertidur dan senderkan kepalamu di pundakku. Saat itu pula aku ingin menjagamu
untuk selamanya. Bahkan, aku sempat berkata dengan sangat pede-nya kepada dua orang temanku itu bahwa aku ingin kau menjadi
istriku nanti.
“A short conversation with you is much
more important to me, than a long conversation with someone else.”
Berkurangnya
intensitas ketemuan cukup memberikan efek pada hati ini. Hati ini yang awalnya
seutuhnya untukmu, kini mulai berkurang. Hati ini berkhianat. Pindah ke ‘dia’,
seorang perempuan yang mampu mengalihkan duniaku. Sampai November 2011,
perasaanku ke ‘dia’ lebih besar dibandingkan perasaanku kepadamu. Saat
suatu malam minggu, kukenalkan ‘dia’ kepadamu, terlihat sekilas di raut
wajahmu sebuah kesedihan. Aku terkejut saat mendengar ucapan temanku yang saat
perkenalan itu juga ada disana. Temanku itu mengatakan padaku bahwa setelah
perkenalan di malam itu, kamu menangis. Aku tidak habis pikir kenapa kamu
menangis malam itu. Apakah kamu cemburu? Tapi bukankah beberapa bulan sebelum
perkenalan itu kamu sudah kembali menjalani hubungan dengan kakak kelasmu?
Karena takut merusak hubunganku
dengan ‘dia’ juga merusak hubungan kamu dengan kakak kelasmu, akupun
mengambil keputusan untuk membahas hal ini denganmu. Tanggal 21 November 2011,
bertepatan dengan final SEAGames 2011 cabang sepakbola, kita membahas hal ini. “Maaf,
kita gabisa terus kaya gini. Gue tau gue masih ada rasa sama lo. Tapi, lo kan
udah punya pacar, dan gue juga udah punya ‘dia’. Jadi mendingan kita jalanin
aja dulu sama pacar masing-masing.” Dengan sangat berat hati, aku berkata
seperti itu melalui BBM. Aku juga menambahkan “udah.. sekarang gini. Lo
yakinin aja omongan ‘klo jodoh gabakal kemana’, yaa klo emang kita jodoh pasti
nanti bakal dipersatukan kok.”
Januari 2012, saat semua folder
sms darimu kuhapus. Kamu mengirimkan satu sms lagi. Sebuah pesan singkat yang
kamu kirimkan dengan menggunakan bahasa inggris, yang jika diartikan menjadi “aku
rindu kamu yang dulu”. Karena sms itulah aku sempat bertengkar dengan ‘dia’,
dan menyalakan kembali sisa-sisa api asmara yang telah kupadamkan dengan
paksa beberapa bulan lalu. Aku sempat menghilang tanpa kabar, bahkan ‘dia’ pun
tidak kukabari. Hingga pada pertengahan bulan Februari, bulan yang penuh cinta
itu, akupun membulatkan tekad untuk tetap bertahan dengan ‘dia’. Namun
apadaya, nasi sudah menjadi bubur, semua telah terlambat. ‘Dia’ yang
mampu mencuri perhatian juga hatiku dari kamu ini memutuskan untuk mengakhiri
hubungan denganku. Aku putus dengan ‘dia’ sedangkan kamu tetap bertahan
dengan kakak kelasmu itu.
“Akan tiba saatnya, ketika kamu single,
dia punya pacar, dan ketika dia single, kamu yang punya pacar” - @poconggg
Semenjak saat itu aku bertekad
untuk menjaga jarak denganmu. Aku tidak mau terlalu dekat seperti saat-saat
sebelumnya. Tapi aku juga tidak ingin terlalu jauh dari kamu. Kita sudah mulai
jarang bertemu, bahkan sekedar berbalas BBM saja sudah jarang. Apalagi sejak
kamu sudah masuk SMA. Kita semakin jarang bertemu dan hampir tidak pernah
berbalas sms, mention twitter, ataupun BBM. Meskipun seperti itu, aku tetap
sedia setiap saat kamu membutuhkanku. Misalnya, pada suatu malam minggu di
tahun 2012, kamu datang kerumahku tanpa memberitahukanku sebelumnya. Malam itu,
aku yang sebelumnya belum pernah mengenalkan satu pun perempuan kepada orang
tua dan kakak-kakakku itu sangat terkejut akan kehadiranmu. Aku pun langsung
membawamu kerumah salah satu teman kita. Disana, kamu bercerita tentang
hubunganmu yang sudah tidak beres itu. Kamu bercerita tentang sikap kakak
kelasmu itu kepadamu. Sebagai ‘teman’ yang juga masih menyimpan rasa
sayang, aku sangat tidak ingin melihat kamu disakiti oleh orang lain. Aku pun
menganjurkan agar kamu meninggalkan dia.
Saranku itu akhirnya kamu ikuti.
Kamu pun mengakhiri hubunganmu dengannya, orang yang sudah sering menyakitimu. Kali
ini kita sama-sama ‘kosong’, kita pun sudah tau perasaan masing-masing, namun
ga ada yang berani memulainya. Kita sudah tidak pernah chat, namun ketika
sedang bertemu, aku merasa sangat dekat, bahkan kita bertingkah bagaikan
sebagai pasangan.
“You can't simply
befriends someone you used to love, because a little part of your heart will
always love her”
Entahlah, apakah semua yang aku
rasakan ini tentang perasaanmu, tentang perkataan manismu, dan tentang semua
kedekatan kita saat sedang bertemu adalah sebuah kenyataan ataukah hanya
khayalan untuk bisa memiliki hatimu. Yang aku tau, aku tetap menyayangimu, dan perasaanku
masih seperti dulu. Mungkin kamu berkata bahwa aku berubah. Kamu benar, aku
memang berubah. Aku merubah cara untuk mencintaimu. Aku mencintaimu dalam diam.
Tidak seperti dulu saat aku menyatakan langsung perasaanku ini padamu. Kini aku
lebih suka untuk menyatakan cintaku padamu melalui do’a yang selalu kupanjatkan
kepada-Nya setiap hari.
“Tuhan,
tolong jagalah dirinya saat aku berada jauh dari dirinya, jauhkanlah dia dari
orang-orang yang ingin menyakiti hati dan perasaannya. Sampaikanlah sayangku
untuknya. Tuhan, izinkanlah aku untuk menjadi ‘Imam’-nya suatu saat nanti..”
Kini aku telah memilih untuk
pergi dari Jakarta. Aku memilih untuk meninggalkan semua kenangan yang aku
miliki di Jakarta. Termasuk meninggalkan kamu yang belum sempat aku miliki. Maafkan
aku atas segala kesalahan yang pernah kuperbuat terhadapmu. Maafkan aku yang
harus pergi jauh dari kamu. Terima kasih telah membuat hari-hariku lebih
bewarna. Terima kasih telah mengisi cerita dalam hidupku. Terima kasih telah
mengajarkan padaku bahwa mencintai tidak harus selalu berarti memiliki. Dan
yang perlu kamu ketahui selain semua cintaku padamu, yaitu rasa bangga telah
mengenalkan kamu ke ibu dan kakakku. Karena kamulah wanita pertama dan
satu-satunya hingga saat ini yang pernah aku kenalkan kepada orang dirumahku. Tunggulah
aku di Jakarta. Tempat dimana aku memulai segalanya. Tunggulah aku di sana,
bersama dengan semua mimpi-mimpiku..
“How do I say goodbye to someone I never really
had? Why do my tears fall so endlessly for someone who was never really mine?
Why is it I miss someone I was never really with? And why do I love someone
whose love was never really mine”


0 comments:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.